Sesal
Inspired by ‘Usah Kau Lara Sendiri’ Song, in
accordance to World AIDS Day 2009.
”Mereka tidak untuk dijauhi, Mereka tidak juga untuk dibenci, Atas nama kemanusiaan kita patut memberi dukungan”
Aku sama sekali tak pernah membayangkan adanya hari ini. Betapa tidak, aku berdiri diantara puluhan orang yang sedang berjuang menghadapi kematian atas penyakit berat yang mereka derita.
Ada rasa takut yang kian membuncah sedari tadi tertahan, aku takut penyakit itu berpindah ke tubuh ku. Walau aku tau kontak fisik tidak membuat penyakit itu seketika berpindah, tapi kekhawatiran itu lebih berkuasa dalam otak ku.
Hati ini semakin tak percaya, karena aku ada disini untuk sahabat ku sendiri. Sahabat kecil yang dulu selalu ada dikala tawa menghilangkan nestapa, sahabat kecil yang dulu selalu ada dikala duka merudung jiwa. Dulu dia selalu ada untuk ku, nyaris tak ada peluh untuk ku baginya.
Kini dia terbaring dihadapanku, dengan tubuh layu dan susut. Ku perhatikan desah nafas di dadanya yang terlihat tak beraturan. Nafas itu berbicara tentang ketakutan akan kematian, nafas itu juga berbicara tentang pelajaran berharga untuk tidak terulang. Nafas itu berbicara pada ku tentang jutaan kesedihan, tak terasa haru ku pun pecah menafikan kelelakian ku. Yang ada dalam fikiran ku, “Kenapa harus sahabat ku, kenapa harus dia… Tuhan??”
Aku larut dalam duka yang mendalam, tanpa ku sadari sahabat ku terbangun atas duka itu.
“Ed, lo dateng Ed…”
Sesegera mungkin ku sibak peluh kesedihan yang berusaha membanjiri wajah penat ku.
“Edward Andi…”, Migo menyebut nama ku dengan setengah mengeja.
“Lo ketemu sahabat lama bukannya pasang wajah ceria malah mewek kaya anak cewe. I’m OK buddy, the time has just made me being as a lesson to learn by anyone. Sometimes human being not just need only one or more sample to aware on something”
“Tapi kenapa elo go… kenapa harus elo!!! kenapa lo harus dateng dengan kondisi seperti ini setelah kepergian lo?? Lo janji sama gw kalo lo akan balik untuk jadi orang, bukan jadi kaya gini!!!” “Hey dude, if I were a God I would prefer not choosing this path as my way of life!!! Kenapa semua orang harus terus-terusan nyalahin gw?? dan kenapa elo, sahabat gw sendiri, yang gw harepin ngasih gw semangat tapi malah ngga ada bedanya sama mereka semua… PERGI LO… PERGIII… gw ngga butuh orang-orang kaya lo!!! PERGIII….” “Go, go… maafin gw go…” “PERGIIII…. gw ngga mau liat muka lo lagi, Ed” “Go, please maafin gw…” Migo membabi buta meluapkan emosi, aku berusaha membuatnya lebih tenang tapi entah darimana kekuatan itu berasal, tangannya masih cukup mampu menolak tangan ku yang berusaha menurunkan bahunya yang agak naik ketika dia mengusir ku. Seorang perawat akhirnya datang setelah Migo menekan tombol pemanggil…. “Suster, suruh dia pergi suster…” “Go… maafin gw go, please!!”, suster itu berusaha mendorong dada ku hingga aku mundur beberapa langkah, tapi aku merasa tak boleh pergi begitu saja. Aku menghempas tangan suster itu dari dada ku dan setengah berlari untuk kembali menuju Migo, “Go… lo ngga boleh gini go, ini gw Ed sahabat lo, maafin gw… please!!!”, aku mulai terisak… “Maafin gw go… maafin gw…” Tangis ku terurai, bahkan Migo tak sedikitpun peduli menjawab permohonan maaf ku. Wajahnya berpaling dari kehadiranku, dia seakan tak ingin melihatku hadir disini. Yang aku tau ia pun terisak atas kejadian tadi, air matanya jatuh membasahi bantal tempatnya merebahkan kepala yang tak ayal hanya sebagai bentukan tengkorak dan lapisan kulit tipis. “Sebaiknya lo pulang, Ed. Gw mo istirahat… Gw mo sendiri, please…” “Go… lo ga maafin gw??” “Lo boleh kesini lagi besok, Ed… Please, biarin gw istirahat hari ini” Terasa berat rasanya untuk membiarkan tubuh ku beranjak dari tempat ini, tapi apa boleh buat Migo mungkin memang benar-benar butuh istirahat. Aku merasa bersalah karena membuatnya menjalani hari ini dengan keletihan yang sangat. “Maafin gw Go…”, aku berjalan meninggalkan Migo yang tidak sedikitpun berpaling untuk melihat kepergian ku. Untuk terakhir kalinya aku menatap ke arah Migo sebelum meninggalkan pintu ruangan itu. Akhirnya Migo membalikkan kepalanya, ku lihat ada segaris senyum di wajahnya. Senyum yang sama saat terakhir kali aku mengantarnya ke Bandara menuju Netherland 12 tahun yang lalu. Senyum yang sama seperti yang ku lihat terakhir kali di foto bersama pacarnya. Senyum yang selalu memancarkan semangat hidup. Senyum unik yang hanya dimiliki oleh sahabat baik ku Migo. ********************* Malam ini sulit sekali aku memejamkan mata, tak sabar rasanya menanti hari esok dan mendengar jawaban maaf dari Migo. Besok aku berencana untuk datang dengan mengenakan baju kaos V-Shaped Neck yang dulu pernah dia kirimkan tapi tak pernah mau aku kenakan karena merasa kaos itu tak akan pernah cocok untuk ku. Aku akan mengenakannya besok. Aku ingin dia tertawa besok, akan ku biarkan dia tertawa lepas dengan kegembiraan karena akhirnya kaos itu ku pakai juga tanpa paksaan-paksaan yang dulu pernah dia lakukan via telephone. Aku pun tertidur dengan semua bayangan-bayangan indah tentang Migo yang terbawa dalam mimpi ku. ********************* Usah Kau Lara Sendiri Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu Kudatang sahabat, bagi jiwa Letakkanlah tanganmu di atas bahuku Sekali sempat kau mengeluh, kuatkah bertahan? usah kau lara sendiri Letakkanlah tanganmu di atas bahuku Letakkanlah tanganmu di atas bahuku tak hilang arah kita berjalan Usah kau simpan lara sendiri DI RUMAH SAKIT : Migo baru saja menyelesaikan surat yang ditulisnya untuk Ed, dia seakan terdorong menuliskan surat itu ketika ia merasakan kondisinya semakin memburuk dengan segala kelemahan yang dialami… Bayangan tentang kematian silih berganti membuatnya ketakutan dan kedinginan. Tak henti-hentinya mulut Migo bergumam Do’a memohon ampunan dosa. Do’a itu membuat kondisi hatinya naik-turun, kadang ada ketegaran yang menguatkan untuk menghadapi apapun yang terjadi. Tapi kadang ketakutan yang sangat begitu membuatnya tetap tidak siap karena merasa dosanya masih sangat banyak untuk menghadapi akhir usia. “Tuhan, jika aku memang harus menghadap Mu saat ini, itu adalah kuasa Mu Tuhan. Engkau maha tahu atas apa yang ada dalam hati tiap manusia. Ampuni aku Tuhan… Ampuni aku… Ampuni aku… Ampuni aku… Ampuni aku… Ampuni aku… Ampuni aku… Ampuni aku… Ampuni aku… Ampuni aku…” ********************* Aku terbangun dengan kondisi yang sangat terkejut, aku memimpikan Migo yang tampak jauh lebih segar dan hendak meninggalkan aku kembali menuju tempat yang sangat jauh. Waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, aku berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan asa yang sangat gundah menuju kamar Migo, betapa terkejutnya aku ketika mendapati kamarnya telah kosong. Hanya ada kamar dengan kasur dan selimut yang tersusun rapi tak berpenghuni. Seketika aku melihat seorang perawat baru saja keluar dari toilet kamar tersebut. Aku ingat perawat itu, itu perawat yang kemarin mencoba untuk mendorong ku keluar. “Suster, mana Migo suster… ada teraphy apa hari ini??” “Bapak yang bernama Edward Andi Putera? Pak Migo hanya menitipkan surat ini untuk Bapak. Maaf pak, beliau sudah beristirahat dengan tenang semalam. Ikhlaskan kepergiannya pak, permisi” Aku hanya bisa terdiam, dada ini terasa sesak seperti tak ada ruang lagi untuk udara. Aku tak sempat menunjukkan kepada Migo betapa senangnya aku mengenakan baju yang dia belikan. Hanya ada bulir air mata yang menjadi saksi bahwa ternyata baju ini sangat pas di tubuh ku, dia selalu tau apa yang baik untuk ku tapi dia tak pernah mau tau apa yang tidak baik untuknya. Aku hanya bisa berteriak untuk melepas emosi yang membatu beku di dalam dada. Selamat Jalan, Migo… Dear Ed, Ed, as what I’ve said yesterday… Gw yakin lo tau betapa menyesalnya gw, sama menyesalnya seperti saat gw tau bahwa gw akan kehilangan lo selamanya dengan penyakit ini. But that is my destiny, and none of us could blame the destiny. Tuhan punya kuasa diatas segalanya. Ketika gw secara sadar menjalani hidup gw, ketika gw secara sadar mengetahui konsekuensi yang akan gw terima atas hidup gw, ketika itu pula gw merasa menjadi manusia seutuhnya, Ed. Once again, I proud to be one of it. Thanks for being my best buddy, Ed. Migo- Last Chapter of “Sahabat tak pernah Berseberangan”
by Katon Bagaskara & Ruth Sahanaya
tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu
sekilas galau mata ingin berbagi cerita
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa
biar terbagi beban itu
dan tegar dirimu
Di depan sana cah’ya kecil tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan
menghadapinya
satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh
Kudatang sahabat, bagi jiwa
saat batin merintih
masih ada asa tersisa
biar terbagi beban itu
dan tegar dirimu
Di depan sana cah’ya kecil tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan
menghadapinya
biar terbagi beban itu
dan tegar dirimu
Di depan sana cah’ya kecil tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan
menghadapinya
menghadapinya
The time has just made me being as a lesson to learn by anyone.
Sometimes human being not just need only one or more sample to aware on something.
And I proud to be one of it, eventhough I’ve just put myself to be the worst one.
Leave a comment
Play Music
uh…miris ceritanya T^T
gini ya kalo udah kena penyakit ganas itu ….
Clara
02/12/2009
btw udah ku follow ya
Clara
02/12/2009
Thanks yah dah follow :)
Otak Cutbray
02/12/2009
jangan biarkan mereka melihat rasa iba di mata kita, mereka tidak butuh itu
biarkan mereka merasakan hangatnya senyum di bibir kita, dan mereka akan ikut tersenyum bersama…
linduaji
02/12/2009
ii…
takut aku…,
Fais
02/12/2009
Linduaji :
Makanya gw nyesel banget, harusnya pertemuan terakhir itu diisi dengan kegembiraan :((
Fais :
iya, ini memang bukan untuk konsumsi anak kecil, hahahaha…. tapi ambil positifnya ya iz…
Otak Cutbray
02/12/2009
Nice story bro… nice friendship..!!
Bandit Pangaratto™
02/12/2009
gw ga bisa coment apa – apa, cuma air mata yang bisa mewakili story sobat lo … Gw tetap yakin gw sehat! sehat! sehat! Tuhan akan beri kesehatan buat gw. Mudah – mudah tidak ada lagi jadi korban
makasih ceritanya , Salam kenal cheetuhost@yahoo.com
25/01/2010