Your browser (Internet Explorer 6) is out of date. It has known security flaws and may not display all features of this and other websites. Learn how to update your browser.
X
Post

Ketulusan

Ijab KabulThe Story is inspired by the song “Judika – ketulusan” and another similar song “Reza Arthamevia – Ketulusan”

“Lebih dari cinta yang pernah kuberi
Lebih dari rindu yang pernah kurasa
Masih banyak waktu yang kan dijalani
Masih banyak rahasia kehidupan ku kita”

Hari ini aku melangkahkan kaki ku untuk memasuki babak baru dalam kehidupan ku, kehidupan yang menuntut kedewasaan dalam hidup ku, kedewasaan dalam berfikir, kedewasaan dalam bertindak, dan segala bentuk kedewasaan yang harus selalu mengisi tiap-tiap keputusan yang aku buat nantinya.

Aku bahkan tidak tahu pasti apakah keputusan ku sekarang adalah bentuk kedewasaan yang aku harapkan, keputusan bertendensi, keputusan yang aku yakin tujuannya sangat mulia, walaupun harus menafikan kata hati ku. Keputusan ini aku buat untuk membahagiakan Ibu ku, wanita termulia dalam hidup ku, wanita yang setiap kata-katanya adalah do’a bagi ku. Dan ketika keputusan ini aku buat, aku yakin segala curahan do’a-do’a indah dari bibir Ibu ku akan mengiringi tiap jengkal langkah dalam hidup ku.

Hari ini ada karena keputusan ku, hari yang bagi kebanyakan orang adalah hari terindah disepanjang hidupnya, hari yang akan mengubah segalanya menjadi sesuatu yang baru. Dan hari ini aku menginjakkan kaki ku di gerbang fase baru untuk memasuki kehidupan baru bersama seseorang yang dipilihkan oleh Ibu ku, dulu karena alasan tertentu tanpa sepengetahuan ku.

Ya… hari ini adalah hari pernikahan ku, hari bahagia ku, hari bahagia gadis itu, dan tentunya hari bahagia Ibu ku. Tapi sayangnya bukan hari bahagia bagi kehidupan cinta ku.

Langkah pertama ku memasuki rumah suci, diiringi senyum bahagia dari Ibu ku, senyum yang sangat jarang aku temui, senyum terindah dari seorang Ibu untuk putera-nya yang akan meninggalkan masa lajangnya, senyum terbaik yang pernah aku lihat disepanjang hidup ku. Senyum yang menyiratkan kesedihan karena harus melepaskan pegangan tangan putera-nya dalam mengarungi kehidupan selanjutnya.

Aku tetap berusaha menjawab senyum Ibu ku dengan senyum terbaik yang aku punya, senyum yang aku harapkan bisa membuat hati Ibu ku tenang dengan siratan makna, “Aku akan baik-baik saja, Ma….”, tapi senyum itu justru membuat Ibu ku tersungkur sedih dengan segala pengharapan. Aku merasakan gerak tubuhnya yang seakan ingin memeluk ku erat, tentunya untuk tetap menguatkan langkah ku.

Ku alihkan pandangan ku karena aku takut langkah ku terpaku, ku lemparkan senyum ku kepada semua tamu yang hadir di dalam rumah suci ini, hingga mata ku tertuju pada sesosok bentuk yang sedang tertunduk dalam kepedihan yang mendalam. Sesosok yang pernah aku kenal dengan baik, sesosok yang pernah memberikan cintanya kepada ku, sesosok yang pernah ku berikan cinta ku padanya, bahkan mungkin hingga detik ini dan detik-detik selanjutnya.

Ia hadir dengan balutan cinta putih yang tersisa, dengan selembar halus kesucian yang menutupi separuh mahkotanya dan ujung-ujungnya terselempang di bahunya. Tapi keharuan begitu tampak pada wajahnya, butiran-butiran kristal bening memuai dalam kelembutan wajahnya. Aku terus menatap penuh wajahnya hingga langkah terakhir ku terputus dihadapan sang juru nikah.

Aku terduduk persis dihadapan sang juru nikah, beliau seperti merasakan sebentuk gundah yang ku rasakan hingga terlontar pertanyaan, “Apakah anda Edward Andi Putera, siap memasuki kehidupan baru anda?”

Ku kumpulkan segala kuasa yang aku punya dan menjawab dengan tegas, “Siap, Insha Allah”.

Hingga akhirnya aku tersadar, sesosok gadis baru saja duduk disebelah ku. Dialah sang calon mempelai yang akan mengiringi langkah ku dalam mejalani hidup baru ku kedepan.

Sang juru nikah mulai mengucapkan sebentuk do’a, tiba gilirannya aku pun dituntut untuk mengucapkan kalimat penguatan Iman akan keyakinan ku kepada Tuhan dan Utusan-Nya, dilanjutkan dengan janji suci untuk tetap setia mengarungi kehidupan cinta hanya kepadanya, seseorang yang nantinya akan menjadi bagian hidup ku.

Setelah serangkaian prosesi, aku dan gadis itu disandingkan dihadapan para tamu yang hadir untuk mendapatkan do’a suci, tak terkecuali sesosok cinta yang pernah ku punya. Dia telah berdiri dihadapan ku dan pasangan baru ku dengan derai kepedihan yang telah membeku. Gadis yang berada disamping ku seakan merasakan sakit yang kami derita, hingga akhirnya gadis itu merengkuh erat sebelah lengan ku dengan janji cinta baru yang akan menyembuhkan luka-luka ku.

Sosok cinta yang pernah ku punya memeluk erat gadis disebelah ku seakan menitipkan cinta-nya untuk ku, dia memeluknya dengan segala ketulusan mencium kedua pipinya dan sekelebat berlalu dari hadapan ku dengan tangis yang tak tertahan…

Aku merasakan kepedihan yang dia rasakan. Sebentuk kalimat yang tidak seharusnya aku ucapkan terburai dari hati ku dalam sebentuk diam… dalam harap yang tak terucap, semoga dia mendengar kata hati ku…

“Ku akan selalu mencintaimu
Sampai aku tinggalkan dunia ini
Ketulusanku tak akan berubah
Walau kita tak mungkin untuk bersatu
(Slamanya)”

“Maafkan ku harus meninggalkanmu
Maafkan bila hatimu terluka
Tetapi hatiku hanya milikmu
Karena kau lah yang terbaik untuk diriku”

  • loh nikahnya terpaksa ya?
    tapi ogut suka cara deskripsiinnya keren~

    Clara

    08/01/2010

  • Aw aw aw…. jadi malu nih :)
    lagi coba belajar bikin tulisan yang sedikit berlawanan dari yang pernah dibikin sama Clara… :)

    Mohon petunjuk :)

    Edward Andi CiHuyy

    08/01/2010

  • Andiiiiii….. *hugs u* ups…gak boleh ya udah suami orang…
    gw jadi sedih….seandainya gw ada di sana akan ku besarkan hatimu teman…

    Kamu hebatt…!! demi seorang ibu kamu siap menerima tantangan besar ini…!! u Rawk…!!

    cobalah untuk mencintai istrimu…karna cinta bisa dibina cepat ato lambat… ;)

    jadi dirimu udah suami orang dong ?!
    semoga berbahagia ya teman…

    ajenk

    08/01/2010

  • Errrr…. *garuk garuk ketek*

    Tar dulu deh Jeng, kayanya ada yang salah ya???
    Siapa yang nikah?? hahahaha…..
    Inikan cerita fiksi Jeng… :)

    Baca lagi header-nya deh…
    The Story is inspired by the song “Judika – ketulusan” and another similar song “Reza Arthamevia – Ketulusan”

    Otak Cutbray

    08/01/2010

  • oh fiksi toh

    TM.

    08/01/2010

  • :-o syiaaaaaaalll….gw ketipuuuu…!!!

    ato gw yg gak merhatiin detailnya yaa…?? =))

    ajenk

    08/01/2010

  • bagus say… bagus…. hehehe ini bukan kisah nyata,tapi daya khayal tingkat tinggi misalnya km nikah… :P ah terharuuu aku….

    cm kalo nikah beneran aku ga dikasih tau… tak cari kamu sampe ujung priok buat digebukin *preman mode on* =))

    Dengan siapapun kamu nikah nanti say, dijodohkan atau menemukan sendiri…kamu pasti tau cara membuat istrimu itu bahagia…

    BrenciA KerenS

    08/01/2010

  • weleh….tak kirain beneran,, ternyata fiksi toh
    tapi keren loh cerita nya,, jadi terharu :p

    Etha

    09/01/2010

  • Timmy :

    Iya Tim… ini cuma fiksi :)

    Ajenk :

    hahaha… gw ga ada niatan buat nipu lho jeng :P

    Bre :

    Thanks dear… kasi masukan dong, kalo aku lagi nulis kaya gini yang harus di improve apanya??? :)

    Etha :

    Makasih tha :)

    Otak Cutbray

    10/01/2010

  • ceritanya bagus say.. maksudnya dapet…kereen, aku terharuuu.

    tambahan say, lebih dasyat lagi kalo diceritain suasana hati mas edward ini mengucapkan ijab kabulnya sembari
    sedikit dikasih flash back kenangan termanis hubungan cinta yg terpendam ini. biar semakin termehek2…

    kurang cocok sebenernya kalo aku yg ngasih masukan, secara…sapee gituu yg mo bikin buku…

    BrenciA KerenS

    11/01/2010

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment