Your browser (Internet Explorer 6) is out of date. It has known security flaws and may not display all features of this and other websites. Learn how to update your browser.
X
Post

BIG DADDY

Persis dua tahun yang lalu gw coba untuk membuat semacam resensi film yang ketika itu mendadak menarik perhatian gw…

Hahaha, mau liat jenis resensi yang ngga niat banget tapi maksa buat nulis???

Liat deh :P

Fatmawati, 31 Januari 2008

Sweet Child o’ Mine (by Gun’s N Roses)

She’s got a smile that it seems to m Reminds me of childhood memories Where everything Was as fresh as the bright blue sky Now and then when I see her face, She takes me away to that special place, And if I’d stare too long I’d probably break down and cry

Sweet child o’ mine
Sweet love of mine

She’s got eyes of the bluest skies As if they thought of rain I hate to look into those eyes, And see an ounce of pain, Her hair reminds me of a warm safe place, Where as a child I’d hide And pray for the thunder And the rain To quietly pass me by

More…

Post

Tuhan, untuk apa aku hidup?

Untuk apa aku hidup?
Ibuku berkata, “untuk menyembah kepada Tuhan tentunya”
Tuhan yang mana?
Terlalu banyak Tuhan di muka bumi ini
Hingga membuat ku kerap bertanya, Tuhan yang mana yang patut disembah

Aku kenal dengan Tuhan sudah sejak kecil
Bukan perkenalan langsung tapi perkenalan perantara Ibu ku
Ibu ku berkata, “Tuhan ada dimana-mana”
Disetiap jiwa manusia, di hati kita semua
Ibu ku berkata, “Tuhan bersemayam di atas kerajaan-Nya”
Dialah Raja segala Raja
Ibu ku berkata, “Tuhan lah pencipta seluruh umat manusia”
Dialah pencipta semua makhluk, tanpa terkecuali

Tapi kenapa manusia punya Tuhan yang berbeda-beda
Tapi kenapa manusia beranggap hanya Tuhannya lah yang terhebat
Tapi tidak dengan Tuhan yang lainnya More…

Post

Jika kau sayang Ibu mu

Jika kau sayang Ibu mu, kau akan sedia mungkin untuk berusaha tidak membuatnya menangis

Jika kau sayang Ibu mu,
Kau akan tau bagaimana membuatnya tersenyum
Kau akan tau apa yang dia suka dan apa yang tidak dia suka
Kau akan mengerti bilamana dia kecewa
Kau akan paham kala dia butuh sendiri atau ditemani

Jika kau sayang Ibu mu,
Jangan merokok dihadapannya karena akan mempersingkat waktu bertemu dengannya

Jika kau sayang Ibu mu,
Jangan memunggungi tubuhnya karena hatinya yang halus akan luluh lantak karenanya

Jika kau sayang Ibu mu,
Tatap wajahnya ketika dia berbicara
Sapa tegurnya bila dia bertanya
Jauhi kata tidak atas perintahnya
Mulut dan telinga mu bersujud padanya More…

Post

Necrophobia dan Kebelet Nikah

Pernah ngerasain yang namanya takut banget mati??

Gw pernah, dulu hampir dua taun yang lalu ada sebuah kejadian yang membuat gw berfikir ulang tentang hidup gw dan gw bener-bener ada di kondisi yang takut banget kalo mati dengan banyak dosa dan belum merasakan indahnya kehidupan pernikahan.

Beberapa waktu yang lalu gw chat sama Bre dan ngobrol banyak tentang gangguan psikologis yang gw hadapi belakangan ini, gw ngga tau apakah gangguan itu masih ada atau ngga tapi yang jelas hal itu bisa dateng kapan aja terutama jika tiba-tiba gw kehilangan cahaya, di dalam ruangan yang sangat gelap, dan gw sendirian. Terlebih setelah gw kehilangan beberapa orang terdekat gw, nenek dari bokap, kakek dari nyokap, trus nyusul nenek dari nyokap yang punya hubungan psikologis sangat dekat dengan gw, kemudian disusul bokap gw, dan terakhir tante gw yang meninggal muda dalam kondisi tanpa suami dan meninggalkan 4 orang anak.

Gw ngga tau apakah itu masuk dalam kategori penyakit atau bukan, tapi setelah searching-searching akhirnya gw tau bahwa namanya Necrophobia. Ok, mungkin brief description tentang Necrophobia kurang lebih gini : More…

Post

Penyesalan

Pregnant female Aku hamil tanpa suami, apa aku harus menyesal?
Tidak hanya pada satu lelaki tetapi tiga, apa aku harus marah?
Aku melakukannya dengan segala kesadaran yang ku punya…
Jangan sebut aku pelacur !!!
Karena kami melakukannya atas dasar suka sama suka…

Aku seorang gadis belia berusia tidak lebih dari 22 tahun dan sedang mengandung anak sulung ku yang berusia 5 bulan dalam kandungan ku. Semua orang menghina ku, semua orang mencerca kondisi ku, bahkan ayah ku satu-satunya orang tua yang ku punya telah menjatuhkan justifikasi dengan mengutuk aku sebagai anak durhaka dan aku tidak lagi diizinkan untuk menginjakkan kaki ku di rumahnya…

Apa aku harus sedih??

Sejak kecil aku dibesarkan oleh orang tua angkat ku, Ibu kandung ayah ku tapi tidak dengan ayah kandung ayah ku. Kemana Ibu kandung ku? Beliau telah lama meninggalkan kami ke tempat yang sangat jauh ketika aku dilahirkan.

Hidup ku semakin tak tentu arah terlebih ketika Ibu angkat ku pun akhirnya pergi meninggalkan kami, juga ke tempat yang sangat jauh. Kini hanya tinggal ayah angkat ku yang sangat menyayangi ku walaupun aku membawa malu bagi keluarga ku.

More…

Post

Ketulusan

Ijab KabulThe Story is inspired by the song “Judika – ketulusan” and another similar song “Reza Arthamevia – Ketulusan”

“Lebih dari cinta yang pernah kuberi
Lebih dari rindu yang pernah kurasa
Masih banyak waktu yang kan dijalani
Masih banyak rahasia kehidupan ku kita”

Hari ini aku melangkahkan kaki ku untuk memasuki babak baru dalam kehidupan ku, kehidupan yang menuntut kedewasaan dalam hidup ku, kedewasaan dalam berfikir, kedewasaan dalam bertindak, dan segala bentuk kedewasaan yang harus selalu mengisi tiap-tiap keputusan yang aku buat nantinya.

Aku bahkan tidak tahu pasti apakah keputusan ku sekarang adalah bentuk kedewasaan yang aku harapkan, keputusan bertendensi, keputusan yang aku yakin tujuannya sangat mulia, walaupun harus menafikan kata hati ku. Keputusan ini aku buat untuk membahagiakan Ibu ku, wanita termulia dalam hidup ku, wanita yang setiap kata-katanya adalah do’a bagi ku. Dan ketika keputusan ini aku buat, aku yakin segala curahan do’a-do’a indah dari bibir Ibu ku akan mengiringi tiap jengkal langkah dalam hidup ku.

Hari ini ada karena keputusan ku, hari yang bagi kebanyakan orang adalah hari terindah disepanjang hidupnya, hari yang akan mengubah segalanya menjadi sesuatu yang baru. Dan hari ini aku menginjakkan kaki ku di gerbang fase baru untuk memasuki kehidupan baru bersama seseorang yang dipilihkan oleh Ibu ku, dulu karena alasan tertentu tanpa sepengetahuan ku.

Ya… hari ini adalah hari pernikahan ku, hari bahagia ku, hari bahagia gadis itu, dan tentunya hari bahagia Ibu ku. Tapi sayangnya bukan hari bahagia bagi kehidupan cinta ku.

Langkah pertama ku memasuki rumah suci, diiringi senyum bahagia dari Ibu ku, senyum yang sangat jarang aku temui, senyum terindah dari seorang Ibu untuk putera-nya yang akan meninggalkan masa lajangnya, senyum terbaik yang pernah aku lihat disepanjang hidup ku. Senyum yang menyiratkan kesedihan karena harus melepaskan pegangan tangan putera-nya dalam mengarungi kehidupan selanjutnya.

Aku tetap berusaha menjawab senyum Ibu ku dengan senyum terbaik yang aku punya, senyum yang aku harapkan bisa membuat hati Ibu ku tenang dengan siratan makna, “Aku akan baik-baik saja, Ma….”, tapi senyum itu justru membuat Ibu ku tersungkur sedih dengan segala pengharapan. Aku merasakan gerak tubuhnya yang seakan ingin memeluk ku erat, tentunya untuk tetap menguatkan langkah ku.

Ku alihkan pandangan ku karena aku takut langkah ku terpaku, ku lemparkan senyum ku kepada semua tamu yang hadir di dalam rumah suci ini, hingga mata ku tertuju pada sesosok bentuk yang sedang tertunduk dalam kepedihan yang mendalam. Sesosok yang pernah aku kenal dengan baik, sesosok yang pernah memberikan cintanya kepada ku, sesosok yang pernah ku berikan cinta ku padanya, bahkan mungkin hingga detik ini dan detik-detik selanjutnya.

Ia hadir dengan balutan cinta putih yang tersisa, dengan selembar halus kesucian yang menutupi separuh mahkotanya dan ujung-ujungnya terselempang di bahunya. Tapi keharuan begitu tampak pada wajahnya, butiran-butiran kristal bening memuai dalam kelembutan wajahnya. Aku terus menatap penuh wajahnya hingga langkah terakhir ku terputus dihadapan sang juru nikah.

Aku terduduk persis dihadapan sang juru nikah, beliau seperti merasakan sebentuk gundah yang ku rasakan hingga terlontar pertanyaan, “Apakah anda Edward Andi Putera, siap memasuki kehidupan baru anda?”

Ku kumpulkan segala kuasa yang aku punya dan menjawab dengan tegas, “Siap, Insha Allah”.

Hingga akhirnya aku tersadar, sesosok gadis baru saja duduk disebelah ku. Dialah sang calon mempelai yang akan mengiringi langkah ku dalam mejalani hidup baru ku kedepan.

Sang juru nikah mulai mengucapkan sebentuk do’a, tiba gilirannya aku pun dituntut untuk mengucapkan kalimat penguatan Iman akan keyakinan ku kepada Tuhan dan Utusan-Nya, dilanjutkan dengan janji suci untuk tetap setia mengarungi kehidupan cinta hanya kepadanya, seseorang yang nantinya akan menjadi bagian hidup ku.

Setelah serangkaian prosesi, aku dan gadis itu disandingkan dihadapan para tamu yang hadir untuk mendapatkan do’a suci, tak terkecuali sesosok cinta yang pernah ku punya. Dia telah berdiri dihadapan ku dan pasangan baru ku dengan derai kepedihan yang telah membeku. Gadis yang berada disamping ku seakan merasakan sakit yang kami derita, hingga akhirnya gadis itu merengkuh erat sebelah lengan ku dengan janji cinta baru yang akan menyembuhkan luka-luka ku.

Sosok cinta yang pernah ku punya memeluk erat gadis disebelah ku seakan menitipkan cinta-nya untuk ku, dia memeluknya dengan segala ketulusan mencium kedua pipinya dan sekelebat berlalu dari hadapan ku dengan tangis yang tak tertahan…

Aku merasakan kepedihan yang dia rasakan. Sebentuk kalimat yang tidak seharusnya aku ucapkan terburai dari hati ku dalam sebentuk diam… dalam harap yang tak terucap, semoga dia mendengar kata hati ku…

“Ku akan selalu mencintaimu
Sampai aku tinggalkan dunia ini
Ketulusanku tak akan berubah
Walau kita tak mungkin untuk bersatu
(Slamanya)”

“Maafkan ku harus meninggalkanmu
Maafkan bila hatimu terluka
Tetapi hatiku hanya milikmu
Karena kau lah yang terbaik untuk diriku”